BuserFakta.net Kota BATU
Kawasan Songgoriti, Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu Kota Batu akan menjadi pusat perhatian warga Malang Raya pada Senin, 22 Juni 2026. Sebanyak 50 kontingen seni budaya dipastikan meramaikan Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo ke‑18, kirab tahunan yang menjadi penanda masuknya Tahun Baru Jawa.
Perhelatan yang digelar Paguyuban Sanggar Empu Supo bersama warga setempat ini dimulai pukul 09.00 WIB. Mengusung tema “Manggalaning Gwaya Purna Udaya”, kegiatan ini mengangkat semangat kebangkitan, kesejahteraan, serta pelestarian nilai‑nilai budaya leluhur.
Ketua Pelaksana, Bayu Satria Putra, mengungkapkan seluruh persiapan telah dimatangkan. Puluhan kelompok dari berbagai wilayah di Malang Raya akan berpartisipasi. “Kami berharap seluruh peserta menjaga ketertiban agar acara berjalan aman, nyaman, dan tetap berjiwa budaya,” ujarnya Minggu, 21 Juni 2026.
Berbeda dari karnaval umum, panitia menerapkan aturan tegas demi menjaga kualitas dan ketertiban. Peserta dilarang keras menggunakan pengeras suara berdaya besar, toa, maupun alat bunyi‑bunyian berlebih (sound horeg). Sebagai gantinya, setiap kelompok wajib menampilkan irama secara langsung lewat alat musik tradisional atau pengiring hidup.
Intinya seni dan keharmonisan pertunjukan. Tidak ada adu volume suara, yang ditonjolkan kreativitas dan kualitas kesenian masing‑masing,” tegas Bayu.
Aturan lain yang berlaku:
Jumlah anggota tiap kontingen dibatasi maksimal 35 orang;
Atraksi hanya boleh dilakukan di titik panggung penghormatan, durasi penampilan paling lama enam menit;
– Dilarang berhenti sembarangan di sepanjang jalur kirab guna mencegah kemacetan dan penumpukan massa; setelah tampil, rombongan harus langsung menuju titik pembubaran yang ditentukan.
Dari sisi keamanan, panitia melarang tegas membawa minuman keras, narkotika, serta senjata tajam yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan pertunjukan. Seluruh pimpinan kelompok, pawang, pendekar, hingga sesepuh budaya diminta bertanggung jawab penuh atas perilaku anggotanya.
Perhatian khusus diberikan bagi kawasan Candi Songgoriti yang bernilai sejarah dan spiritual tinggi. Akses ke situs bersejarah ini dibatasi dan peserta diwajibkan menjaga etika serta kesopanan selama berada di lingkungan candi.
Lewat pelaksanaan ke‑18 ini, panitia berharap masyarakat tidak sekadar menikmati tontonan, tetapi makin memahami makna sejarah, tradisi, dan filosofi luhur yang diwariskan leluhur.
Reporter : Nur Halim
























