BuserFakta.news – Kab PANDEGLANG Kemerdekaan Republik Indonesia yang baru saja ke-81 dirayakan, belum bisa dirasakan maknanya secara nyata bagi Erfan, seorang siswa penyandang disabilitas yang bersekolah di MIS YSAB, Kampung Sukajadi Barat, Desa Sukajadi, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Setiap hari, Erfan dan ibunya, Erna Riani, harus berjuang melewati jalan yang hancur, berlubang, dan terjal—satu-satunya akses menuju sekolah—yang tak kunjung diperbaiki sejak puluhan tahun silam.
Jalan yang seharusnya menjadi jembatan menuju masa depan, justru menjadi rintangan terberat bagi Erfan. Menggunakan kursi roda, Erfan didorong ibunya melewati hamparan batu dan tanah yang rusak parah. Tak jarang, keduanya hampir terguling di tengah perjalanan yang penuh risiko ini.
Hampir setiap hari, kami berdua harus berjuang dengan kondisi jalan yang rusak. Mau bagaimana lagi, Pak? Kami hanya melihat keinginan Erfan untuk bersekolah, itulah yang membuat kami terus berjuang melewati jalan ini,” ujar Erna Riani, ibu Erfan, dengan suara terseduh saat ditemui awak media, Rabu (26/08/2026).
Erna menegaskan, meskipun anaknya memiliki keterbatasan fisik, semangat Erfan untuk menuntut ilmu sama tinggi dengan siswa lainnya. Namun, semangat itu setiap hari diuji oleh kondisi infrastruktur yang sangat memprihatinkan.
Anak kami memang punya keterbatasan, tapi Erfan selalu ingin sekolah dan menuntut ilmu seperti rekannya yang lain. Kami hanya berharap pemerintah mau melihat dan memperbaiki jalan ini,” lanjutnya.
Kepala Sekolah MIS YSAB, Encun, membenarkan kondisi tersebut dan menyampaikan keprihatinan yang mendalam. Ia menyaksikan sendiri setiap hari bagaimana para siswa, terutama Erfan, harus berjuang hanya untuk bisa sampai ke ruang kelas.
Memang benar, Erfan bersekolah di tempat kami. Kami sering melihat para murid harus melewati jalan rusak itu, apalagi Erfan. Sungguh miris melihatnya datang dan pulang sekolah dengan kursi rodanya melewati jalan seperti itu
“Ungkap Kepala sekolah
Pantauan di lokasi memperlihatkan jalan yang hanya berupa hamparan batu terjal dan permukaan tanah yang rusak parah, sangat tidak layak dilalui pejalan kaki apalagi pengguna kursi roda. Warga sekitar yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keprihatinan sekaligus kemarahan karena jalan ini sudah puluhan tahun tak pernah disentuh perbaikan oleh Pemerintah Kabupaten Pandeglang.
Sudah bertahun tahun Pak, tak pernah diperbaiki. Apalagi saat musim hujan datang, duh, miris sekali melihatnya. Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Atau Pemerintah Desa setempat ke mana saja Anggaran Dana Desa (ADD) Jangan sampai kemerdekaan hanya dirayakan di atas kertas, sementara rakyat kecil seperti Erfan masih menderita setiap hari,”Tegas warga setempat.
Orang tua siswa lainnya juga menyampaikan aspirasi yang sama: mereka tidak meminta hal yang berlebihan, hanya jalan yang layak dan aman bagi anak-anak untuk menuntut ilmu.
Kami tidak banyak menuntut kepada pemerintah. Kami semua orang tua murid hanya menginginkan jalan menuju sekolah ini diperbaiki. Apakah terlalu berat untuk diminta?” ujar salah satu orang tua siswa dengan nada penuh harap.
Media BuserFakta.news menyoroti bahwa ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan pelanggaran terhadap hak dasar warga negara atas akses pendidikan yang layak dan aman
Pemerintah Kabupaten Pandeglang diduga telah menutup mata hati dan membiarkan akses vital warga—terutama bagi penyandang disabilitas—terabaikan selama bertahun tahun. Dimana hati nurani pemerintah setempat? Apakah anggaran daerah tidak menyisakan ruang untuk perbaikan jalan yang menjadi nyawa bagi pendidikan untuk anak-anak masa depan bangsa ini?
Warga dan orang tua siswa menuntut agar Pemerintah Kabupaten Pandeglang segera merespons dan merealisasikan perbaikan jalan tersebut tanpa menunda lagi. Jangan biarkan semangat belajar Erfan dan ratusan siswa lainnya terus diuji oleh kelalaian pemerintah.
Dimana hati nurani Pemerintah Kabupaten Pandeglang? Jangan tutup mata dan biarkan rakyat kecil terus menderita!
(Tim/Red)
























