BuserFakta.net Kab MALANG
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi memimpin kegiatan Panen dan Tanam Tebu Serentak dalam rangka Program Bongkar Ratoon serta Perluasan Areal Tebu Tahun 2026
Kegiatan dilaksanakan di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, pada Kamis (18/6/2016)
Gerakan ini berlangsung secara serentak di sejumlah wilayah sentra produksi, termasuk Kediri, Magetan, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Mojokerto, dan Lamongan, yang dipantau secara daring oleh Gubernur. Langkah ini menjadi bagian dari upaya terpadu memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada gula nasional.
Jawa Timur memiliki peran sentral dalam industri pergulaan nasional, dengan kontribusi mencapai 51 persen dari total produksi gula nasional. Pada tahun 2025, provinsi ini mencetak rekor produksi sebesar 1,34 juta ton gula kristal putih, angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Kegiatan ini bukan sekadar panen dan tanam, melainkan penguatan fondasi strategis menuju swasembada gula yang berkelanjutan,”Tegas Khofifah.
Sebagai provinsi penghasil utama, Jawa Timur mendapatkan amanah dari pemerintah pusat untuk merealisasikan target luas lahan seluas 54.897 hektare pada tahun ini. Rinciannya meliputi 48.315 hektare untuk program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman, serta 6.582 hektare untuk perluasan areal baru, yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
Program ini mengutamakan penggunaan bibit unggul seperti varietas Bululawang, NX 01, NX 02, NX 03, NX 04, NXI-4T, dan SGN 01. Varietas tersebut dipilih karena memiliki potensi hasil tinggi, mencapai 110 hingga 150 ton per hektare, serta mampu meningkatkan kadar rendemen gula. Dukungan penyediaan benih berasal dari Kementerian Pertanian.
Khofifah mencontohkan, Kecamatan Gondanglegi pernah mencatat produktivitas hingga 250 ton per hektare. Capaian itu membuktikan bahwa peningkatan hasil dapat dicapai lewat kombinasi bibit berkualitas, teknologi budidaya modern, mekanisasi, serta sinergi antara petani, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pemerintah.
Transformasi sektor tebu juga mencakup perbaikan sistem irigasi, penguatan kelembagaan kelompok tani, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan gula. Salah satu fokus utama adalah menjaga ekosistem usaha agar gula produksi petani terlindungi dari persaingan yang tidak sehat, termasuk mencegah masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemprov Jatim menyerahkan bantuan sarana produksi dan alat pertanian bagi kelompok tani di Malang. Bantuan meliputi pompa air, traktor tangan, alat pengolah kopi, alat pemotong rumput, serta ribuan bibit cengkeh guna mendukung efisiensi usaha dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Selain faktor budidaya, perhatian juga diberikan pada proses pasca panen dan penggilingan. Teknik penebangan yang tepat serta optimalisasi kinerja pabrik gula dinilai penting untuk menjaga dan meningkatkan kadar rendemen. Pendampingan teknis dari petugas lapangan menjadi kunci agar seluruh tahapan produksi berjalan sesuai standar.
Khofifah mengingatkan bahwa tantangan ke depan seperti perubahan iklim dan keterbatasan lahan membutuhkan inovasi dan kolaborasi yang semakin kuat. “Dengan semangat gotong royong, Jawa Timur akan tetap menjadi tulang punggung swasembada gula nasional dan memperkuat kedaulatan pangan bangsa,” pungkasnya.
(Red)
























