Opini Oleh:Sandi Irawan Jurnalis Buser Fakta Jawa Barat
Para pejabat di negara ini sekarang nampak seperti nelayan di atas perahu kecil yang terombang-ambing ombak sambil sibuk mengurai tali pancing yang kusut tidak karuan.
Satu ujung talinya bernama MBG, ujung lainnya bernama Koperasi Desa Merah Putih. Ditarik pelan kusut, ditarik keras tambah kusut. Sementara ikan belum dapat, solar hampir habis, dan langit ekonomi global mulai gelap.
Di ruang-ruang rapat kementerian, para pejabat mungkin sudah tidak lagi menghitung berapa cangkir kopi yang mereka minum setiap hari. Pagi rapat MBG, siang rapat koperasi, malam rapat anggaran, subuh evaluasi distribusi telur dan beras. Negara ini perlahan berubah menjadi republik dapur raksasa dengan tingkat stres birokrasi yang mungkin sudah mendekati level UGD nasional.
Lucunya lagi, semua ini dibungkus pidato heroik penuh tepuk tangan. Dari podium terdengar sangat gagah:
Negara mana yang mampu memberi makan puluhan juta rakyat?”
“Negara mana yang mampu membangun puluhan ribu koperasi dalam setahun?”
Rakyat pun bertepuk tangan. Pasar diam. Investor batuk kecil. Menteri Keuangan mulai mencari antasida lambung.
Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan niat memberi makan rakyat atau membangun koperasi desa. Bahkan itu terdengar mulia. Masalahnya adalah ketika negara tiba-tiba merasa dirinya sanggup mengurus semuanya sekaligus:
isi piring, dapur, telur,susu, distribusi, koperasi, gudang, pendingin, laporan, audit, sampai sendok dan nampan.
Padahal negara ini selama puluhan tahun merdeka sebenarnya baik-baik saja tanpa harus menjadi operator dapur nasional.
Rakyat memasak sendiri.Warung hidup sendiri.Ibu-ibu belanja sendiri. Anak-anak tetap tumbuh. Bahkan banyak yang jadi profesor, insinyur, dokter, pendeta, pengusaha, dan pejabat tanpa pernah mendapat nasi ayam program nasional setiap pagi.
Tetapi begitulah politik.Politik sering merasa semua masalah bisa diselesaikan dengan proyek besar.
Ekonomi tidak demikian. Politik hidup di kepala. Ekonomi hidup di perut dan dompet.
Di podium pidato, angka triliunan terdengar gagah. Tetapi di pasar:
harga beras naik sedikit saja rakyat mengeluh, rupiah goyang sedikit investor mulai gelisah, APBN melebar sedikit pasar obligasi mulai curiga. Karena ekonomi tidak mengenal tepuk tangan. Ekonomi hanya mengenal kemampuan nyata.
Dan di sinilah masalah mulai terlihat.
Program MBG bukan sekadar urusan memasak. Ia adalah monster logistik nasional:
jutaan porsi makanan, ribuan dapur, distribusi harian, pengawasan kualitas,
rantai pendingin,audit pengadaan, standar gizi, koordinasi pusat-daerah,
hingga potensi kebocoran. Belum selesai satu simpul, muncul simpul baru.
Sementara di sisi lain, negara juga berlari membangun puluhan ribu koperasi desa dalam tempo kilat. Akibatnya hampir semua kementerian seperti terseret masuk ke dalam pusaran:
Kementerian Keuangan, Kementerian dalam negeri, Kementerian pertanian,
Kementerian koperasi, Kementerian desa, BPKP, Pemerintah daerah, Bank Himbara, Satgas, Badan koordinasi,
Tim percepatan, dan mungkin sebentar lagi tim Percepatan Percepatan.
Negara akhirnya terlihat seperti orang yang membuka terlalu banyak tab di laptop tua: awalnya percaya diri, beberapa menit kemudian mulai hang.
Masalah terbesar sebenarnya bukan niat baik. Masalah terbesar adalah kapasitas.
Karena sehebat apa pun para Pejabatnya, mereka tetap manusia:
bisa lelah, bisa salah, bisa stres, bisa panik, dan bisa kewalahan menghadapi kerumitan yang tumbuh lebih cepat dari pada kemampuan mengendalikannya.
Ironinya makin terasa ketika Menteri Keuangan Purbaya sendiri mengaku berat badannya turun hampir 10 kilogram selama beberapa bulan menjabat. Publik pun mulai bercanda:
Mungkin ini pertama dalam sejarah ekonomi modern: program makan bergizi nasional justru membuat Menteri Keuangan kehilangan berat badan.
Padahal itu menyiratkan sesuatu yang serius: betapa berat tekanan fiskal dan koordinasi yang sedang dipikul negara.
Tetapi program sebesar ini punya jebakan politik yang berbahaya:
Maju terus bisa membebani fiskal,
Mundur akan terlihat gagal.
Maka lahirlah situasi satir ironi berbau paradoks: Maju Tak Mampu, Mundur Tak Mau. Dan mungkin tidak ada gambaran yang lebih tepat selain membayangkan Presiden sebagai pemilik “Republik Dapur Raksasa” sedang memikul tumpukan ompreng MBG naik ke atas bukit menuju sebuah sekolah di desa.
Awalnya penuh semangat. Kamera pidato menyorot gagah. Musik kebangsaan mengiringi. Semua orang bersorak.
Tetapi makin tinggi bukitnya: ompreng makin berat, napas mulai tersengal, kaki mulai gemetar, sementara jalan ekonomi global di depan tampak makin licin.
Di tengah tanjakan itu muncul dilema besar: kalau terus maju tenaga hampir habis, kalau mundur ompreng bisa jatuh berantakan, sementara rakyat di bawah sudah telanjur menonton. Dan di belakang beliau
Menteri Keuangan membawa map APBN sambil kurus 10 kilogram, para pejabat berlari membawa proposal, satgas mondar-mandir, koperasi belum siap,
dapur belum selesai, telur terlambat,
audit menyusul, sementara investor mulai memperhatikan dari kejauhan.
Padahal dunia sedang tidak baik-baik saja.
Ekonomi global melambat. Geopolitik menyala. Perang dagang meningkat.
Utang dunia tinggi.Suku bunga global keras. Investor sensitif. Pasar mudah panik.
Dalam situasi seperti itu, negara sebenarnya membutuhkan bantalan:
fiskal yang kuat, cadangan yang cukup,
ruang manuver, dan prioritas yang hati-hati. Bukan justru mengikat diri pada proyek raksasa permanen yang menyedot energi birokrasi nasional setiap hari.
Karena kalau keadaan global benar-benar memburuk, semua kelemahan akan muncul bersamaan: defisit melebar,
rupiah tertekan, penerimaan pajak turun,
sementara program raksasa tetap harus jalan. Dan di titik itulah negara bisa mengalami apa yang paling ditakuti ekonomi: kelelahan fiskal dan kelelahan birokrasi secara bersamaan.
Akhirnya para pejabat terlihat seperti nelayan di awal cerita tadi: berdiri di atas perahu kecil sambil panik mengurai benang kusut yang ujungnya sudah tidak jelas ada di mana. Padahal, anak isteri menunggu dengan hati risau.
Sementara itu, nelayan lain sudah berkemas untuk pulang dengan tangkapan yang jelas. Sementara rakyat di pinggir pantai hanya menonton sambil berkata: Dari dulu kami juga masak sendiri
























